Urgensi Litrasi HAM Di Media sosial

PORTALPANUA.COM – Dua tahun lalu, sebut saja FS, mahasiswa magister hukum Universitas Gadjah Mada menulis umpatan dan olok-oloknya kepada Kota Yogyakarta dan Sultan di salah satu akun media sosialnya. Praktis, status bernada kebenciannya tersebut menjadi perbincangan di jagad dunia maya. Di kemudian hari, dia dilaporkan ke pihak kepolisian oleh salah seorang warga Yogyakarta karena FS dianggap telah melakukan pencemaran nama baik, serta melanggar UU ITE.

Pada kasus yang lain, ketika anak muda berinisial AT, yang berdomisili di Tangerang, menulis status di akun Facebook pribadinya terkait kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, tulisannya ternyata memancing kemarahan sebagian umat Muslim untuk melakukan perusakan di beberapa wihara di wilayah tersebut. Dari saluran media, berujung pada provokasi massa untuk melakukan kekerasan kepada kelompok agama berbeda.

Ada sekian banyak contoh kasus, di mana orang tanpa sadar menulis satu atau dua kalimat di media sosial yang berakibat pada terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Mulanya, status di Facebook, Twitter atau Path, hanya dianggap sebagai bentuk meluapkan rasa kekesalan, tetapi siapa yang sangka jika curhatan itu justru malah mengganggu privasi orang lain, atau mencemooh kelompok dan golongan yang berbeda pilihan politik, pandangan dan paradigma pemikiran, serta keyakinan.

Maraknya ujaran kebencian di media sosial sekarang ini, mau tidak mau, salah satu faktornya adalah karena tingkat pemahaman publik, khususnya anak-anak muda, yang masih minim terhadap nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Akibatnya, dengan tanpa beban (atau bahkan awalnya hanya bercanda), orang menulis status atau komentar yang menyinggung hak asasi orang atau kelompok lain.

Sungguh fenomena elegis ini patut disayangkan, terlebih lagi jika melihat dari sisi pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta jiwa (APJII, 2015). Dari 88,1 juta netizen itu, saluran media sosial adalah yang paling banyak dikunjungi. Setiap hari, ada sekitar 76 juta (87,4%) netizen yang melakukan perbincangan di jejaring sosial.

Mayoritas netizen yang selalu aktif di media sosial merupakan anak-anak muda yang berada di usia sekitar 20 tahun hingga 30 tahun. Jumlah mereka mencapai 61,8 juta jiwa atau 24,5% dari jumlah penduduk di Indonesia (BPS, 2014). Dengan jumlah pengguna sebesar itu, Indonesia menduduki peringkat ke-5 pengguna media sosial terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, Jepang dan Inggris.

Problemnya, netizen yang begitu besar tidak diimbangi dengan tradisi literasi yang memadai, apalagi memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap nilai-nilai universalitas HAM. Hasil riset World’s Most Literate Nation, yang disusun oleh Central Connecticut State University belum lama ini menjelaskan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Ironis, Indonesia berada di urutan paling belakang nomor dua setelah Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika.

Akibatnya, watak illiterate yang menjangkiti nalar anak-anak muda sekarang ini mewujud dalam bentuk komentar bernada olok-olok, diskriminatif, mencemarkan nama baik orang, lembaga dan institusi lain, berkata-kata kasar yang memuat sensitifitas ras, golongan dan kelompok tertentu, serta ujaran kebencian yang dengan mudah kita temui di berbagai jejaring sosial.

Yang awalnya teman lama, karena berbeda pilihan terhadap pandangan keagamaan tertentu, kemudian menjadi saling olok dan caci maki di media sosial. Bahkan, tak sedikit tuduhan kafir (takfiri) dijatuhkan kepada sesama saudara Muslim hanya karena menulis pembelaan terhadap calon pemimpin non muslim.

Penulis
Nafi’ Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *