Toleransi Melalui Goresan Pena

Oleh : Donly Hendra

POHUWATO,PORTALPANUA.COM Beberapa waktu yang lalu, Kota Salatiga mendapatkan predikat sebagai salah satu Kota ter-Toleran se Indonesia bersama dengan beberapa kota lainnya seperti Manado, dan Surabaya. Jakarta? Penulis tidak mau berspekulasi, akan tetapi dari hasil survey beberapa lembaga mengatakan bahwa Jakarta masuk sebagai salah satu daerah Intoleran sejak Pilgub kemaren. Tapi bukan itu yang akan kita bahas saat ini.
Sekali lagi, diibaratkan sebagai Indonesia kecil, kota Salatiga menjadi kota yang sangat menyenangkan dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal, bukan saja bagi penduduk lokal, namun juga untuk warga negara asing yang berdomisili di kota ini karena alasan pekerjaan ataupun wisata. Sesekali mengunjungi kota ini cukup membuat hati siapa saja yang datang menjadi sejuk, seperti cuaca kota salatiga.

baca juga : Toleransi sebagai kunci perdamaian antar umat beragama

Begitu bebasnya dan begitu tolerannya kota ini sehingga masyarakat yang tinggal benar-benar hidup dengan rukun dan damai antara satu dengan yang lainnya. Berbagai macam orang datang dari berbagai pelosok negeri berkumpul disana dan tinggal bersama sebagai suatu kesatuan, komunitas yang cinta damai dan menjunjung tinggi NKRI.
15 Desember 2018 menjadi hari yang cukup special bagi beberapa mahasiswa kota salatiga karea mereka berkesempatan untuk mengikuti seminar atau workshop mengenai bagaimana cara menjadi penulis muda yang kreatif. Diselenggarakan atas inisiatif Yayasan Hidayah Bangsa, acara ini diikuti oleh kurang lebih 20 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Salatiga, dan mendatangkan pembicara yang ahli dalam bidang penulisan dari Malang.
Mereka diajarkan bagaimana menjadi penulis-penulis muda yang bukan hanya bisa menulis, namun juga bisa menuangkan ide-ide kreatifnya mengenai toleransi dan kerukunan masyarakat Indonesia yang plural.
Memang bukanlah hal yang mudah jika kita berbicara mengenai toleransi. Tidak semudah membalikkan telapak tangan ataupun mengajarkan monyet naik sepeda. Apalagi dengan makin berkembangnya dunia teknologi saat ini, dimana masyarakat dari semua kalangan bisa dengan sangat mudah dalam mengakses berbagai macam informasi di dunia maya. Akan tetapi prinsip dasar toleransi seharusnya sudah ada dalam diri setiap individu masyarakat karena sudah menerima didikan atau ajaran tersebut dari dalam lingkungan keluarga. Tidak ada keluarga didunia ini yang dari sejak anaknya lahir, sudah mengajarkan mengenai bagaimana membenci kakak atau adiknya, atau juga orang lain.
Meskipun mengajarkan toleransi bukanlah hal yang mudah, namun bukan hal yang mustahil. Toleransi bisa diajarkan dan mulai untuk digaungkan kembali melalui tulisan-tulisan yang membangun rasa nasionalisme, kepedulian terhadap sesama manusia, sikap mengalah dan saling menghormati satu sama lain.
Dari goresan pena-pena muda, kita bisa mulai mengajak para pembaca untuk kembali menumbuhkan dan mengembangkan niai-nilai toleransi dalam kehidupan bersosial, menyadarkan masyarakat mengenai arti penting toleransi itu sendiri, dan sehingga benar-benar toleransi itu bukan hanya sekedar menjadi kata yang menghiasi indahnya pidato atau ceramah di rumah-rumah ibadah saja, namun benar-benar nyata didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari acara ini diharapkan supaya mulai muncul penulis-penulis muda kreatif yang berani mengangkat isu sosial dan atau isu yang dianggap tabu dalam setiap tulisannya untuk memberikan edukasi yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia yang rukun dan damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *