Pesan Perdamaian Dalam Islam

PORTALPANUA.COM – TIDAK ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan. Islam, Kristen, Yahudi, Budha, dan Hindu senantiasa menunjukkan kepada masing-masing umatnya kepada jalan kebenaran dan perdamaian. Akan tetapi, dalam banyak kasus, mengapa agama acapkali dijadikan alat justifikasi terhadap berbagai tindak kekerasan, tak terkecuali aksi terorisme. Kemunculan Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syuriah/ISIS) dan aksi yang kerap terjadi adalah fakta yang tidak bisa dibantah, di mana agama dijadikan tameng untuk menghilangkan nyawa manusia. Ulah sejumlah pihak yang menempatkan agama sebagai alat untuk melakukan kekerasan bukan hanya ada di Irak, Suriah, Prancis dan sejumlah negara di Eropa, melainkan juga terjadi di Indonesia. Meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, namun tetap saja persinggungan antar kelompok/aliran di tubuh agama ini seringkali terjadi. Bahkan konflik antaragama juga mengemuka dan mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Pada 13 Oktober 2015, massa yang berjumlah ratusan orang menggeruduk dan membakar Gereja Huria Kristen Indonesia (GHKI) Desa Sukamakmur, Singkil, Aceh. Usai meluluhlantakkan GHKI, massa bergerak menuju Desa Dangguran yang berjarak sekira empat kilometer dari Sukamakmur. Namun warga setempat yang telah mendapatkan informasi aksi anarkistis di desa sebelahnya enggan tinggal diam. Mereka menjaga Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), hingga akhirnya terjadi insiden berdarah. Tiga tahun yang lalu, penyerangan terhadap jamaah Syi’ah di Sampang, Madura dan kelompok Ahmadiyah di Cikeusik, Banten juga terjadi. Catatan buram konflik agama di Indonesia tidak pernah benar-benar bisa dihapus. Usia kemerdekaan bangsa kita terus bertambah, tetapi jalinan kehidupan umat beragama terus dikoyak oleh sebagian pihak yang tidak bertanggungjawab. Publik dihantui tingkah pola masyarakat yang menamakan dirinya sebagai “Para Pembela Tuhan” tetapi sesunggguhnya tidak berketuhanan. Lebih dari itu, potret buram toleransi beragama yang paling buruk juga pernah terjadi di bumi pertiwi. Pasca lengsernya Soeharto (1998), masyarakat dipertontonkan dengan berbagai aksi intoleran yang juga mengatasnamakan agama seperti konflik Islam-Kristen di Ambon (1999) dan Poso (1998). Simbol-simbol keagamaan seperti masjid dan gereja menjadi basis pertempuran saat itu. Teriakan Allahu Akbardari pengeras suara masjid menggema dan memompa semangat berperang. Tindakan ini tentu saja menimbulkan keganjilan apa benar yang demikian ini disebut sebagai doktrin jihad dalam Islam. Sementara yang menjadi sasaran adalah saudara sendiri, meski bukan sesama agama melainkan masih satu rumpun dari agama tauhid (Chris Wilson: 2008). Meski sebenarnya jika ditelisik lebih mendalam akar masalah dari berbagai pertikaian ini bermula dari persoalan etnis, namun tak bisa dipungkiri bahwa agama juga menjadi faktor pendorong meledaknya kekerasan yang lebih besar. Di awal tahun 2000-an, gerakan radikalisme agama juga diperlihatkan pada peristiwa penyerangan umat Kristiani di Halmahera Utara oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai pasukan jihad Islam (jihad force). Kekerasan berbau agama ini bukan hanya melibatkan puluhan 1 / 4 Pesan Perdamaian dalam Islam – 12-07-2016 iT’s Me – Kembali ke Fitrah – https://www.itsme.id atau ratusan orang, melainkan ribuan masyarakat yang datang dari segala penjuru turut memenuhi komando jihad. Chris Wilson dalam bukunya Ethno-Religious Conflict in Indonesia menceritakan, konflik antara umat Kristiani dan Muslim di Maluku Utara merupakan bagian dari pertarungan antara pasukan Putih-Kuning yang melibatkan ribuan massa (Chris Wilson: 2008). Terlepas dari maraknya berbagai aksi kekerasan berlatarbelakang agama yang terjadi baik di masa lalu maupun saat ini, sesungguhnya doktrin agama tak pernah mengajarkan kekerasan. Islam senantiasa membimbing umatnya ke jalan yang penuh rahmat dan perdamaian bagi seluruh alam. Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya, sikap saling menghormati antarumat beragama sangat ditekankan dalam Islam. Islam tidak memerintahkan umatnya untuk berbuat kejahatan meski berbeda agama, suku, golongan, dan etnis. Teladan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah) adalah bukti bahwa keberagaman agama, suku, etnis, dan budaya bisa hadir bersama dan menciptakan harmonisasi di antara satu sama lain. Perbedaan yang muncul di setiap lini kehidupan merupakan keniscayaan yang harus disyukuri. Budaya damai sangat dianjurkan bagi bangunan kehidupan bersama. Islam dalam banyak pandangan pemikir di seluruh dunia mempunyai pengertian bukan hanya sebatas agama yang bernuansa transendental, melainkan substansi ajarannya memberikan pelajaran penting bagi penciptaan masyarakat yang berperadaban. Mohammad Abu Nimer dalam tulisannya bertajuk Conflict Resolution Approaches: Western and Middle Lessons and Possibilities yang dimuat di American Journals of Economics and Sociology pada Januari 1996 menuliskan, Islam sebagai agama dan tradisi penuh dengan ajaran dan kemungkinan-kemungkinan penerapan resolusi konflik yang damai, sehingga memungkinkan untuk dijadikan sumber berharga bagi nilai, keyakinan, dan strategi-strategi nirkekerasan. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَ قَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ االلهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ االلهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat: 13) Dengan menjadi khalifah Allah, manusia diberi tanggungjawab untuk memelihara lingkungan, alam dan seluruh makhluk-Nya. Untuk menempuh jalan itu, interaksi antar makhluk menjadi modal utama karena semua makhluk-Nya sudah pasti mencita-citakan kehidupan yang aman, tentram, harmoni, dan damai. Rasa damai dan aman merupakan kebutuhan yang esensial bagi tatanan kehidupan bermasyarakat. Dengan kedamaian akan tercipta dinamika kehidupan yang sehat, harmonis dan humanis dalam setiap interaksi antar sesama, serta tidak ada rasa takut dan tekanan-tekanan dari pihak lain. Pemikir Islam asal India Maulana Wahiduddin Khan mengatakan, perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang jika perdamaian terwujud maka ia hidup, namun bila perdamaian itu absen maka ia mati. Karena itu, perdamaian merupakan hak mutlak setiap individu sesuai dengan entitasnya sebagai makhluk yang mengemban tugas sebagai pembawa amanah Tuhan. Islam adalah agama yang syarat dengan pesan perdamaian. Kenyataan itu setidaknya bisa dibuktikan dengan tiga alasan mendasar, yakni: Pertama, Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan. Kedua, salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Maha damai (al-Salam). 2 / 4 Pesan Perdamaian dalam Islam – 12-07-2016 iT’s Me – Kembali ke Fitrah – https://www.itsme.id Ketiga, perdamaian dan kasih sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia. Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia. Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, kerukunan dan perdamaian. Di antara bukti kongkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah atau Perjanjian Hudaibiyyah. Allah SWT dengan tegas menyatakan dalam firman-Nya: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إَِّلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ “Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmatan lil-alamin, pengasih bagi alam semesta.”(Al-Anbiya: 107) Ayat ini menjelaskan bahwa Islam sangat mengecam sikap permusuhan, otoriter, congkak, perpecahan, mau menang sendiri, dan melecehkan pihak lain. Apalagi sampai saling menumpahkan darah. Makna Islam adalah keselamatan yang berarti ajarannya mengajak kepada perdamaian, persaudaraan, kasih sayang, persatuan, toleransi, dan saling menghargai satu sama lain. Kata salam yang merupakan akar kata yang sama dengan Islam dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 39 kali, dengan dua kelompok pengertian. Pertama, salam adalah ucapan selamat (tahiyyah) yang diberikan kepada sesama orang mukmin (Q.S. Al-An’am: 54), ucapan selamat kepada orang-orang yang masuk surga (Q.S. Ar-Ra’d: 24), ucapan selamat dari Ashabul A’rof kepada ahli surga (Q.S. Al-A’raf: 46), dan ucapan selamat dari dan untuk malaikat, Nabi Ibrahim, dan Nabi Luth (Q.S. Hud: 69). Dengan demikian, akar sebab permasalahan Islam dijadikan sebagai agama tidak lain bertujuan untuk kehidupan yang damai, tenang, tentram lahir dan batin di dunia dan akhirat. Al-Qur’an juga dengan jelas menunjukkan kepada umat muslim tentang adanya pesan-pesan perdamaian dalam Islam, misalnya pada sejumlah kata berikut, diantaranya: ar-Rahman (pengasih), ar-Rahim (penyayang), al-Adl (keadilan), as-Salaam (keselamatan), as-Sulkh (perdamaian), al-Hikmat (kebijaksanaan), al-Khasan (kebaikan), dan al-Amru bi al-Ma’ruf wa an-Nahyu ‘an al-Munkar (memerintah kebaikan dan mencegah kemunkaran). Bahkan, pesan-pesan perdamaian itu tidak hanya satu atau dua kali saja disebut dalam Al-Qur’an melainkan berkali-kali. Sementara, ungkapan Qital/Harb (perang) –bukan jihad– dalam Al-Qur’an hanya disebut sebanyak 40 kali.Itupun hanya menunjukkan pengertian yang digunakan pada saat mempertahankan diri saja, selain itu tidak. Maka sudah jelas, jika beberapa kasus kekerasan yang bersentimen agama di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia dewasa ini sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Islam. Penelaaan terhadap tradisi kenabian (hadist), begitu juga teks-teks Al-Qur’an menjadi sangat penting untuk lebih dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai sosial yang berkembang. Pesan damai yang disampaikan secara tersirat dalam Al-Qur’an menjelaskan dengan benar bahwa hidup ini akan sejahtera, tentram, dan damai jika dipenuhi dengan sikap yang toleran, penuh kasih sayang, keadilan, dan kebaikan. Terdapat kecendrungan bila maraknya berbagai aksi anarkis bernuansa agama itu disebabkan oleh pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang keliru sehingga mengakibatkan sesat pikir. Sebab, bisa saja pihak tertentu menafsiri firman Tuhan ini hanya sebatas literatif dan tidak memandang aspek yang 3 / 4 Pesan Perdamaian dalam Islam – 12-07-2016 iT’s Me – Kembali ke Fitrah – https://www.itsme.id lain: aspek sosial dan humanitas. Sehingga, sejumlah kelompok semacam ini mudah menjatuhkan justifikasi kepada kelompok yang berbeda pandangan dengan sebutan kafir. Bagi masyarakat Islam, sejujurnya pesan damai yang terdapat dalam ajarannya tidak hanya dapat dirujuk melalui Al-Qur’an dan Al-Hadis. Sejarah dan budaya masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW pun menceritakan kepada umatnya bagaimana upaya bina damai (peace building) itu diciptakan. Nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiaan, dan penghormatan antar satu dengan lainnya sangat ditekankan dalam hidup berdampingan meski berbeda suku, ras, dan kelompok sehingga komunikasi yang terbangun pun sangat baik dan tidak mudah tercerai berai. Pemahaman mengenai bina damai seperti ini, sesungguhnya telah banyak digunakan oleh para jurudamai untuk menangani berbagai konflik berlatar agama di Timur Tengah. Melalui penggunaan kisah-kisah nabi yang diambil dari kitab suci atau hadist-hadist Nabi Muhammad SAW. Nilai yang termuat dalam AlQur’an, hadist, dan tradisi masyarakat Islam mengenai pesan-pesan perdamaian secara tidak langsung menepis anggapan banyak orang (non muslim) selama ini yang memandang bahwa agama Islam identik dengan kekerasan, terutama pasca serangan terorisme yang menghancurkan World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Penulis: NAFI’ MUTHOHIRIN Staf Program di PUSAM UMM dan dosen di Faklutas Agama Islam UMM. Pendidikan magisternya di jurusan Kajian Agama dan Studi Perdamaian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2014). Minat kajiannya berpusat pada tema-tema Islam dan Perdamaian; Radikalisme dan Kekerasan Ekstrimisme, serta Multikulturalisme. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan, di antaranya adalah: (1) Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus (IndoStrategi, Jakarta: 2014); (2) Mahasiswa di Pusaran Fundamentalisme Islam Kampus: Studi Kasus di Universitas Indonesia (Maarif Institute, Jakarta: 2014); (3) Radikalisme Islam dan Pergerakannya di Media Sosial (Jurnal Afkaruna, UMY: 2015); (4) Reproduksi Salafi: Dari Kesunyian Apolitis Menuju Jihadis (Maarif Instititute, dalam proses). _______________________________________

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *