Tajudin Tukang Cobek yang Dijerat 15 Tahun Bui Berpenghasilan Rp 500 Ribu/Bulan

PortalPanua.com – Seorang penjual cobek di Tangerang Selatan bernama Tajudin ditahan karena dituduh mengeksploitasi anak. Tajudin berjualan cobek dengan dibantu 7 orang, 2 orang di antaranya masih berusia di bawah umur.

Kedua anak di bawah umur ini adalah Cepi Nurjaman (13) dan Dendi Darmawan (14). Mereka diduga memberikan setoran Rp 30 ribu kepada Tajudin setiap harinya. Sementara berdasarkan pengakuan Tajudin, korban dan para saksi persidangan di PN Tangerang, uang Rp 30 ribu itu adalah bagian dari ucapan terima kasih yang diberikan secara suka rela oleh para anak buah kepada Tajudin.

Menurut kuasa hukumnya, Erlangga Swadiri, Tajudin tidak pernah mengambil keuntungan dari 7 orang pekerja yang juga saudaranya itu. Dia membeli cobek dari harga Rp 5 ribu-Rp 20 ribu dan menjual dengan harga yang sama kepada para anak buah. Sementara untuk penghasilan pribadinya, Tajudin menjual cobek dengan harga Rp 20 ribu-Rp 50 ribu.

“Kalau bicara penghasilan, kecil pastinya. Sebulan bisa dapat Rp 500 ribu udah bersyukur,” kata Erlangga kepada detikcom, Rabu (26/10/2016).

Menurut Erlangga, tidak setiap hari dagangan Tajudin laku terjual. Kalau pun ada yang membeli, keuntungan setiap cobek juga tidak terlalu besar.

Tajudin adalah tulang punggung keluarga. Dia memiliki istri dan 2 anak yang masih sekolah. Mereka tinggal di kampung halamannya, Padalarang, Bandung.

Sejak Tajudin ditahan pada 21 April 2016, keluarganya tak mendapatkan nafkah. Kini mereka hanya bergantung dari uang sisa yang diberikan Tajudin sebelum ditahan.

Tajudin dijerat pasal berlapis dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara, yaitu:

1. Pasal 2 ayat (1) UU No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Pasal itu berbunyi:

Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta.

2. Pasal 88 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pasal itu berbunyi:

Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76I, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200 juta.

Adapun Pasal 76I UU No 35 Tahun 2014 menyatakan:

Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.

sumber  :detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *